banner 728x250

Reses DPRD Sumsel di SMK Negeri 2 Palembang: Sekolah Gratis Tak Cukup, Kebutuhan Nyata Masih Menganga

oplus_2
banner 120x600
banner 468x60

Palembang — Updaterakyat.com Kegiatan reses anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan di SMK Negeri 2 Palembang menjadi ruang terbuka bagi sekolah, guru, dan siswa untuk menyuarakan persoalan nyata dunia pendidikan. Dari keterbatasan anggaran, kebutuhan revitalisasi sarana, hingga harapan kesejahteraan guru dan peluang kerja lulusan, semuanya mengemuka dalam dialog yang hangat dan penuh makna.

Kepala SMK Negeri 2 Palembang, Suparman, secara lugas mengungkapkan realitas yang kerap luput dari pemahaman publik.

Kepala SMK N 2 Palembang H. Suparman saat diwawancarai setelah Reses.

“Masyarakat tahunya sekolah gratis. Tapi untuk SMA dan SMK, bapak dewan bisa menghitung kebutuhan anak per siswa. Gedung Alhamdulillah masih berdiri megah, tapi peralatan kami membutuhkan revitalisasi, karena teknologi terus berubah,” ujarnya.

Suparman juga menyoroti posisi komite sekolah yang kerap disalahpahami.

“Kami tetap membutuhkan komite, tapi komite ini sering jadi ‘gadis cantik’ yang menjadi sasaran NGO untuk demo-demo. Padahal kebutuhan sekolah tidak bisa ditutupi hanya dari dana BOS, misalnya untuk gaji honorer,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan harapan besar untuk pengembangan fasilitas sekolah.

“Kalau bisa kami dapat kolam retensi dan aspal hitam. Untuk kebutuhan kecil seperti bangku bisa kami penuhi sendiri, tapi untuk yang besar kami membutuhkan bantuan,” tambahnya.

Dialog Reses: Aspirasi Mengalir dari Guru hingga Siswa

Para Anggota DPRD Sumsel berpoto bersama Siswa/i SMK N 2 Palembang sesaat reses selesai dilaksanakan.

Koordinator reses, Hj. Zaitun, S.H., M.Kn., menyapa satu per satu tokoh dan pejabat yang hadir, di antaranya perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Dinas Kesehatan, dan BP3MI.

“Setelah ini kita lanjutkan dialog dari siswa, guru, dan staf. Apa yang disampaikan Pak Suparman terkait kebutuhan sekolah akan kami bawa ke Komisi V DPRD. Harapan dan proposal tadi akan kami dorong untuk dijawab oleh anggota DPRD lainnya,” kata Hj. Zaitun.

Ia juga menekankan bahwa persoalan pendidikan membutuhkan kolaborasi lintas komisi dan stakeholder.

“Dapil II ini lengkap. Ada dari Komisi III, IV, Ketua Komisi, bahkan Pak Yayul sebagai alumni SMK 2. Semua tantangan pendidikan harus kita jawab bersama,” ujarnya.

Suara Siswa: Dari AC Masjid hingga Peluang Kerja

Dalam sesi dialog, aspirasi juga datang langsung dari siswa.

Salah satu Siswi SMK negeri 2 Palembang saat menyampaikan aspirasinya. 

Salah seorang siswi memohon bantuan pengadaan AC untuk masjid sekolah.

Siswi lainnya dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) menanyakan peluang kerja lulusan SMK di dunia industri.

Menanggapi hal itu, pimpinan reses H. Nopianto, S.Sos., M.M., mengapresiasi keberanian siswa menyampaikan aspirasi.

“Aspirasi ini penting. Inilah tujuan reses, agar suara sekolah, guru, dan siswa benar-benar terdengar,” katanya.

Nasib Guru P3K dan Pertanyaan tentang Pensiun

Persoalan kesejahteraan guru juga mencuat.

Ibu Nursiyah, guru SMK Negeri 2 yang baru diangkat sebagai P3K dan akan pensiun dalam dua tahun, mempertanyakan jaminan masa depan atas pengabdian panjangnya.

“Apakah ada jaminan dari pemerintah atas pengabdian yang selama ini kami lakukan?” tanyanya.

H. Nopianto menjelaskan bahwa sistem pengangkatan dan jaminan pegawai diatur oleh pemerintah pusat melalui Kemenpan RB.

H. Nopianto saat memberikan sambutan pembuka Reses memberikan gambaran umum kepada audiens. 

“Negara sepatutnya memberikan penghargaan atas pengabdian panjang para guru. Namun kewenangan ini berada di pemerintah pusat sesuai aturan yang ada,” jelasnya.

Secara sederhana, pertanyaan Ibu Nursiyah dirangkum dalam bahasa daerah:

“Intinyo, bu Nursiyah nanyo: ado pensiunnyo dak?”

Menanggapi hal tersebut, Anwar Al-Syadat menjelaskan bahwa saat ini ASN telah memiliki skema pensiun setara gaji, namun untuk P3K masih menunggu regulasi lanjutan.

“Untuk ASN sudah jelas. Untuk P3K, kita masih menunggu perda berikutnya,” ujarnya.

Respons Cepat: AC Masjid Dipasang Hari Itu Juga

Momen paling mencuri perhatian terjadi saat aspirasi tentang AC masjid sekolah dijawab langsung oleh M. Yansuri.

“Detik ini juga kita telepon tokonya. Kita pasang. Mau berapa PK?” katanya dengan penuh semangat.

Saat dijawab dua PK, Yansuri langsung memastikan realisasi bantuan.

“Idak nunggu lamo, hari ini jugo kita pasang,” tutupnya, disambut tepuk tangan audiens.

Hj. Zaitun Mawardi Saat membuka reses. 

Potret Nyata Pendidikan: Antara Harapan dan Keterbatasan

Reses di SMK Negeri 2 Palembang bukan sekadar agenda formal DPRD, tetapi menjadi cermin nyata bahwa slogan “sekolah gratis” belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pendidikan.

Di balik gedung megah, sekolah masih berjuang memenuhi tuntutan teknologi, kesejahteraan guru, dan fasilitas pendukung pembelajaran.

Dialog ini menegaskan satu hal:

masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi oleh keberanian mendengar suara sekolah dan keberpihakan nyata dalam anggaran dan program. (Bro Adi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *