Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam, Pelanggan Setia Batik Air Lion Group
Sruputan kopi hitam pagi itu terasa lebih pahit dari biasanya. Bukan karena takaran gula yang salah, melainkan karena pikiran melayang pada satu peristiwa yang membuat saya—sebagai pengguna jasa penerbangan—merasa tidak sepenuhnya aman di udara. Di sudut warkop, obrolan orang-orang berpusat pada satu nama: Khairun Nisya, gadis 23 tahun asal Palembang yang nekat menyamar sebagai pramugari dalam penerbangan domestik.
Banyak yang mencaci. Banyak yang marah. Tapi di antara kepulan asap kopi dan denting sendok, saya justru mengangkat gelas dan bergumam pelan: terima kasih, Nisya.
Bukan karena saya membenarkan kebohongan. Bukan pula karena saya menganggap pelanggaran sebagai hal sepele. Melainkan karena, secara tidak sengaja, Nisya telah membuka mata publik pada satu fakta yang selama ini kita anggap aman-aman saja: sistem keamanan penerbangan kita masih terlalu percaya pada identitas visual.
Dengan koper, seragam hasil belanja daring, dan keberanian yang nekat, Nisya berhasil melenggang hingga ke dalam pesawat rute Palembang–Jakarta sebagai awak tambahan. Tanpa alat canggih. Tanpa ancaman. Tanpa skenario rumit. Hanya bermodal tampilan dan keyakinan diri. Dan justru di situlah masalahnya.
Sembilu di Balik Kain Batik
Di balik seragam putih dan kain batik yang dikenakannya, Nisya bukanlah sosok kriminal berbahaya. Ia adalah potret anak muda yang tersesat di lorong ekspektasi sosial. Gagal seleksi, takut mengecewakan orang tua, dan terjebak dalam tekanan untuk “terlihat berhasil”. Sebuah kebohongan yang lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari rasa malu dan harapan yang tak tertampung.
Saya membayangkan Nisya berdandan rapi dengan tangan gemetar, menyanggul rambutnya, lalu melangkah ke bandara dengan jantung berdegup kencang. Beban yang ia bawa bukan sekadar tas kabin, tetapi kecemasan, rasa bersalah, dan kerinduan akan pengakuan. Dalam hal ini, ia adalah wajah lain dari realitas sosial kita: dunia yang sering kali lebih memaafkan pencitraan daripada kejujuran.
“Hacker” di Atas Awan
Namun kisah ini tidak berhenti sebagai drama kemanusiaan. Ia berubah menjadi peringatan keras bagi sistem. Dalam dunia teknologi informasi, dikenal istilah white hat hacker—peretas yang masuk ke sistem bukan untuk merusak, melainkan untuk menunjukkan di mana letak celah keamanannya. Mereka tidak dipenjara, justru sering direkrut.
Dalam konteks ini, Nisya—sadar atau tidak—telah melakukan hal serupa. Ia menunjukkan bahwa “firewall” keamanan penerbangan kita masih keropos. Jika seorang gadis dengan niat personal bisa lolos hanya karena seragam dan sikap meyakinkan, maka pertanyaannya menjadi jauh lebih mengkhawatirkan: bagaimana jika yang melakukan hal serupa adalah mereka yang berniat jahat?
Masalah utama di sini bukan pada individu semata, melainkan pada sistem yang terlalu mengandalkan simbol visual tanpa verifikasi berlapis yang kuat dan terintegrasi.
Pelajaran yang Tak Boleh Diabaikan
Peristiwa ini memang telah diselesaikan secara hukum melalui jalan damai. Namun bagi publik, kasus ini menyisakan pekerjaan rumah besar. Keamanan penerbangan tidak boleh bertumpu pada atribut, tetapi pada data, validasi identitas, dan prosedur yang tak bisa ditembus sandiwara.
Maskapai dan otoritas terkait tidak cukup hanya menyita seragam dan menutup kasus. Yang lebih penting adalah menyita keangkuhan sistem lama dan menggantinya dengan evaluasi menyeluruh. Peristiwa ini adalah stress test gratis—peringatan dini yang seharusnya disyukuri, bukan disangkal.
Maka biarlah ampas kopi di meja warkop ini menjadi saksi. Kita tidak membenarkan kebohongan. Namun kita patut jujur mengakui pelajaran yang muncul darinya. Karena keselamatan di udara adalah urusan bersama.
Dan kini, setelah identitas visual terbukti bisa menguji sistem keamanan penerbangan kita, saatnya semua pihak melakukan reboot. Agar kelak, setiap penumpang bisa terbang dengan satu hal paling mendasar: rasa aman. (*red/Adi)
















