Updaterakyat,com, Palembang– Diduga Program Universitas Sriwijaya, program sosialisasi DBD di SD Negeri 204 Palembang hanya siswa yang memiliki orang tua. Sementara siswa yang tidak memiliki orang tua tidak diperbolehkan mengikuti program tersebut.
Program sosialisasi DBD umumnya merupakan inisiatif pemerintah melalui Dinas Kesehatan/Puskesmas atau pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi.
Sangat disayangkan program yang diselenggarakan di SD Negeri 204 Palembang, Jalan Mataram, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Kota Palembang, hanya boleh di ikuti oleh siswa yang ada orang tuanya saja, sementara siswa yang tidak ada orang tua tidak boleh ikut.
Padahal fokus kegiatan tersebut adalah edukasi 3M Plus, pemberdayaan siswa sebagai kader jumantik, dan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Kriteria peserta umumnya inklusif, tidak terbatas hanya pada siswa dengan orang tua, karena bertujuan untuk edukasi massal.
Saat awak media mengambil kegiatan sosialisasi DBD di SD Negeri 204 tersebut, awak media sempat dihalangi oleh Ketua tiem penyelenggara kegiatan dr. Wulan.
dr. Wulan juga mengatakan, bahwa kegiatan tersebut hanya boleh di ikuti oleh siswa yang ada orang tua nya saja.
“Kegiatan ini hanya boleh di ikuti oleh orang tua siswa saja, siswa yang tidak ada orang tua tidak boleh ikut, kecuali ada keterangan dari pengadilan terkait keterangan orang tua siswa,” katanya kepada awak media. Kamis (05/02/2026)
Diwaktu yang berbeda, Verawati Koordinator Forum Koalisi Pers (FKP) Kota Palembang menjelaskan bahwa kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan tentang gejala, pencegahan DBD, dan membentuk kader jumantik cilik di sekolah.
“Kegiatan tersebut tidak ada batasan, umumnya seluruh siswa berhak mendapatkan kesehatan, bukan hanya siswa yang hanya memiliki orang tua saja. Fokus utamanya adalah edukasi aktif mengenai pemberantasan sarang nyamuk,” jelasnya.
Jika ada program yang membatasi peserta lanjut Vera, kemungkinan itu merupakan program spesifik atau pengabdian masyarakat dengan target kelompok tertentu saja.
“Secara umum, sosialisasi kesehatan masyarakat terbuka bagi peserta didik,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Kertapati dr. Yetti Armagustini, MKM menyampaikan, kegiatan sosialisasi DBD yang digelar tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan Puskesmas Kertapati.
“Tadi pagi saya ada di SD Negeri 204, saya juga menyampaikan adanya hal tersebut, tapi Ketua tiem mengatakan tidak bisa. Kecuali ada keputusan pengadilan menerangkan terkait hak asuh anak, program itu dari Universitas Sriwijaya melalui Dinas Kesehatan, Puskesmas Kertapati selaku yang punya wilayah hanya memantau kegiatan berlangsung,” tukasnya.
Dengan adanya hal tersebut, maka awak media akan terus memantau kegiatan program sosialisasi DBD hingga selesai. Kenapa hanya siswa yang memiliki orang tua saja yang boleh ikut. (Yopi)














